Aku dan Bulu Angsa Kesuakaanku
Posted byDi tepi danau itu aku terpaku menatap si Angsa putih.
Riuh gaduh gesekan daun hutan kering tak kuasa memalingkan mataku yang seolah berjodoh dengan si Angsa putih.
Tiba-tiba saraf otak meminta mataku untuk mengatur fokusnya.
Bak mata elang, saat itu mataku melihat sehelai bulu lembut berwarna putih keabuan.
Sehelai bulu cantik yang tertancap mantap pada Sayap Angsa.
Sehelai bulu yang indah di antara bulu lainnya meskipun berwarna pucat dan kotor.
Tiada sempurna namun menjadi pembeda dengan bulu angsa di sekitarnya.
(terakhir kali aku menamainya si bulu gundah, mungkin akan ku ceritakan alasannya nanti).
Bersatu-padu, helai demi helai membentuk sayap, bagian penting pada angsa dan makhluk terbang lainnya.
Sebagai penghasil gaya angkat sekaligus gaya dorong di kala terbang.
Sebagai rujukan alat-alat terbang ciptaan manusia masa kini.
Masih, bulu gundah itu tertancap nyaman. Seolah tercipta simbiosis mutualisme dengan si Angsa.
Ia selalu patuh mengikuti gerakan-gerakan angsa meski kadang itu membuat teman sepermainannya terluka dan terlepas akibat gerak angsa yang tak terduga.
Tetapi ia tetap (selalu) memberikan kehangatan pada si Angsa meski kadang tergoda untuk meninggalkan tubuh angsa.
Karena di seberang sana memang banyak manusia dan makhluk lainnya yang ingin sekedar mengelusnya bahkan memilikinya.
Otakku kembali meminta mata memfokuskan lebih dalam pada bulu itu. Namun berulang kali tetap saja,
keterbatasan indera penglihatku membuat tidak dapat memandang secara jelas dan dalam.
Kali ini keterbatasan itu bekerjasama dengan terbenamnya matahari sore (itu).
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali menuju belukar dan berburu untuk makan malam ini.
Anehnya kejadian itu terus berulang, hari demi hari, aku lakukan dalam beberapa satuan waktu, mungkin minggu, saat aku tiba-tiba terbangun di suatu hutan entah di mana.
Pernah memang terpikir olehku untuk terbangun dari mimpi buruk ini. Namun semakin kuat hasrat itu, semakin besar pula keinginan untuk tidak meninggalkan dunia gelap yang terkadang indah ini.
#Esok paginya, seperti biasa, kusiapkan kail untuk sekedar mencari makhluk air pengganjal perut di pagi hari.
Pagi itu berbeda dengan pagi biasanya. Matahari sudah terbenam lagi di pagi itu.
Ya, pagi ini memang berbeda. Bulu angsa kesuakaanku yang selalu aku banggakan terlihat sedikit goyah.
Namun kiranya itu hanya pikiranku saja. Tetapi kali ini goyah itu terasa amat nyata. Bahkan seperti mencoba lepas dan terbang ke arahku.
Entah setan apa yang merasuki pikirannya sehingga terlihat tega meninggalkan zona nyamannya.
Bulu gundah itu seolah berharap akan suatu mimpi yang indah. Kini bulu lembut itu tergeletak tak bertuan di danau yang luas.
Terombang-ambing oleh rasa gundahnya.
Segera aku bertanya pada pohon besar tepi danau. Aku percayai karena pandangannya tidak pernah lepas dari danau itu.
Pohon itu membenarkan bahwa malam kemarin ada sepasang manusia yang tengah memadu kasih di sekitar danau.
Dia pula yang membenarkan bahwa si Angsa putih berada dekat di sekitar pasangan itu pada malam kemarin.
Kemudian si pohon meneruskan ceritanya dengan meniru percakapan sepasang kekasih yang menurutnya dilakukan dalam bahasa asing yang populer di dunia lain.
Mungkin pikirku itu bahasa inggris. Pohon itu kemudian melanjutkan ceritanya dalam bahasa aneh itu yang kira-kira artinya seperti ini*:
Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.
Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria berkata ingin menjadi matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.
Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari.
Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari.
Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun pria tetap keras kepala ingin jadi
matahari tanpa mau ikut berubah bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari.
Pria merenung sendiri dan menatap matahari.
Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih yaitu memberi tanpa pamrih.
Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.
Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan mencegahnya.
Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix.
Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.
Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita. *Taufiq Notes
Kiranya percakapan itu yang membuat bulu gundah itu seolah memiliki kesempatan hidup kedua.
Tidak hanya menghamba pada Si Angsa namun berguna bagi sekitar.
Lalu -kemudian-, malam itu tiba-tiba menjadi mimpi di dalam mimpi yang sangat gelap bagiku.
Di mana aku seperti berada di panggung dongeng dan disoroti cahaya lampu panggung.
Dalam mimpi itu aku terbujur kaku memegangi bulu gundah kesukaanku itu dan berfikir keras menentukan tiga pilihan sulit:
Aku ambil bulu lembut yang terlepas itu untuk aku gunakan dengan sebaik-baiknya;
mengembalikannya pada angsa putih yang terluka;
atau membiarkannya tergeletak sendainya ada anak Adam lain sepertiku yang juga terperangkap dalam ilusi ini dan lebih membutuhkan bulu itu..
Ternyata bikin karya sastra jauh lebih susah daripada bikin TA :D
For my mom, emangnya mama aja yang bisa bikni-bikin buku, walopun ngaco dan gak jelas maknanya, yang penting pernah nyoba ya..
Mungkin ini buat orang2 yang sudah berhasil menyentuh sedikit titik melankolis dalam diri saya. Thanks

0 comments:
Post a Comment